Harmoni Rasa


"Emosi, kejujuran, ego, dan kelembutan dengan sendirinya keluar dari hati dan pikiran, tidak kurang tidak lebih. Sesuai dengan porsinya."

Belum sempat lama ku pejamkan mata, kembali sadar ini membangunkan di heningnya malam. Masih hangat perselisihan yang baru kita lalui tadi, dan serangkaian tengkar dari hari-hari lalu.

Entah ini sesuatu yang wajar apa tidak di pandang mu, tapi mendengar mu mengatakan lelah bertengkar bikin ku merasa gagal membuat mu nyaman.

Selama ini aku terus berusaha bertanya, memantaskan diri. Awalnya aku pikir bisa, namun sesuatu ada yang tak bisa dibohongi, kemampuan ku belum bisa menyamai mu, aku selalu berpikir menyaimai mu adalah dengan menjadi seperti kamu.

Semakin aku coba, semakin aku kewalahan. Aku berpikir aku bisa membahagiakan mu dengan berlaga menjadi mampu, aku akhirnya terlalu memaksakan diri hingga akhirnya kebingungan sendiri.

Dengan memberikan mu sesuatu barang yang berharga atau mengajakmu ke tempat yang 'wah' yang aku sendiri pun mungkin belum pernah rasakan, pikir ku adalah cara membahagiakan mu, dan menyamai hidup mu.

Aku pun terlalu gengsi untuk mengatakan tidak mampu, aku akhirnya hidup di luar batas kemampuan untuk beberapa saat. Ya, hanya beberapa saat, karena aku kembali sadar memang tak bisa.

Bersama mu mungkin adahalah hubungan terberat yang selama ini pernah dialami, bukan karena bedanya hidup, atau jauhnya jarak. Tapi karena ketidak becusan aku memaafkan masa lalu, memaafkan diri. Aku menjadi lebih sensitif, maafkan.

Ambisi membuat mu nyaman dengan versi pikir ku telah menutupi sadar akan kemampuan diri. Karenanya aku selalu bertanya, aku harus seperti apa agar kamu merasa nyaman, agar aku tidak menghabiskan ambisi pikir ku.

Aku yang tertempa serius menjalani hidup, berbanding 180 derajat dengan kamu yang terkesan bisa lebih santai. Menjadikan aku dan kamu tidak bisa saling mengerti jalan pikiran masing-masing. Aku batu dan kamu kapas.

Selama ini kamu pun coba meredam pikir ku dengan penjelasan dan cerita mu. Sekali lagi ternyata aku masih butuh waktu menerima beda.

Kamu mengerti maaf ku yang ini untuk masih sering mempermasalahkan beda, sensitif, sering mengucap maaf, dan sulit berkata tak mampu.

Selama ini aku berpikir untuk masuk ke hidup mu tanpa mencoba membawa mu masuk ke hidup ku, yang mungkin akan lebih mudah terjadi. Baru terpikir.... aku memang egois,batu, alot.

Kuhabiskan hampir  separuh hidupku tanpa rasa dan juga perhatian orang lain, membuat ku terbiasa tak mengabari dan dikabari. Dulu, aku ingat sering cemburu melihat orang lain menerima telpon dan ditanyai keberadaannya, atau melihat orang lain di kunjungi orang tuanya atau sanak saudaranya.

Hal itu menjadi sangat aneh bagiku kalau pun sekarang aku mengalaminya. Aku terbiasa sendiri, terbiasa acuh pada perhatian orang lain

Dan itu terbawa sampai kini, kamu mengerti maaf ku yang ini untuk masing sering sulit mengabari dan menjaga komunikasi.

Aku harap kamu masih mau menjawab tanyaku, apa lagi yang kamu tak sukai? Meski pun sering aku tanyakan.

Yogyakarta, Juli 2015.

Komentar

Postingan Populer