Jogja Merindukan Paris van Java





Halo selamat malam, semoga sehat selalu.

Lama rasanya setelah terakhir menulis di sini. Entah mengapa hasrat, kemauan, juga semangat menulis hilang dan pergi ke mana. Mungkin sedang berlibur mencari angin segar saat tubuh sang pemiliknya sedang tidak bisa ke mana-mana.

Rindu terbaik adalah rindu yang tersampaikan, setuju? Karena memang rindu macam bentuknya. Namun, rindu terbaik adalah rindu yang tersampaikan.

Ada yang rindu sekadar senyuman ringan saat bertemu, ada yang rindu oleh sekadar peluk hangat saat jumpa, ada yang rindu oleh suara buang angin pemecah tawa, ada yang rindu duduk di depan teras dengan semangat menunggu kamu bersolek, ada yang rindu melihat hijaunya alam untuk melepas penat, ada yang rindu melihat mu tertidur pulas di pangkuannya.

Apa pun itu, rindu tetaplah rindu. Kita memang lemah saat dihadapkan pada rasa, namun itulah seninya, itulah indahnya, dan menandakan kita masih manusia. Karena wajar ada jumpa ada pisah.

“Tak apa kamu meninggalkan ku dengan sebuah perasaan yang menghancurkan dan pergi berlari tanpa mau melihat ke belakang, bahwa ada seseorang yang telah jatuh dan terluka mengejar mu.“

Banyak dari kita yang pandai dalam menyimpan sesuatu, saking pandainya kita terkadang bisa membohongi diri sendiri.

Ketika ada yang bertanya “apakah kamu mencintainya?” “Apakah kamu merindukannya?” Dengan tenang kita menjawab “Tidak”. Sayang, lain di bibir lain di hati.

“Malam ini aku benar rindu, aku merindukan mu. Merindukan mu adalah kebenaran yang tak menyenangkan. Namun, mencintai mu ? Itu menenangkan.”

Aku adalah kelemahan diriku, seandainya aku lebih berani untuk memberikan perhatian ini.Sehingga kamu bisa tetap merasa nyaman, sampai saat di mana kita menemukan waktu yang tepat untuk berhenti sejenak. 

Namun, aku takut, aku takut mengartikan semua bahasa yang ada pada mata mu,semua bahasa tubuh mu. Karena aku khawatir keyakianan ku berbeda dengan kebenarannya. Karenanya aku hanya mampu seperti ini, diam.

PS : “Apa kabarnya ? Nampaknya si pembuat sedang tidak baik–baik saja. Ku buka pintu dan kulangkahkan kaki keluar, aku tengokan seluruh kepala ku. Akhirnya aku menemukan sahabat yang sedari tadi melambaikan tangannya ke arahku.

Baiklah, nampaknya hari ini akan menjadi hari yang menarik. Telah aku tulis dalam  catatanku bahwa kepergian mu untukku adalah hasil dari pilihan mu. Aku pun mencoba menerima bahwa kepergianku untuk mu adalah hasil dari pilihanku. 

Kepergian yang menuju temu, bukan kepergian yang menuju hilang. Aku akan selalu menemui mu di tempat yang selalu kau janjikan. Bertemu dengan tangan kecil yang ramah, serta senyum kecil penyambut temu.

Ada satu pesan ku untuk mu.. Hatiku bukan kayu, melainkan langit yang maha luas, namun kau harus tau, langit pun pernah menangis.”

Komentar

Postingan Populer