First Lose




"Sebuah seni yang membutuhkan hati"

Melatih adalah sebuah seni (Alm Prof. Sukadiyanto).

Tak terasa sudah satu tahun aku terjun langsung ke dunia itu, melatih. Seperti halnya seorang seniman yang menuangkan imajinasinya ke dalam karya (bisa apa saja), pelatih menuangkan imajinasinya, instingnya di lapangan.

Setidaknya, pengertian itu yang selama satu tahun ini bisa aku simpulkan, tentunya setiap pribadi memiliki pengertiannya masing-masing tentang melatih dan pelatih. Rasanya sah-sah saja apa pun pengertiannya, selama konteksnya tetap "melatih".

Sejauh yang aku ingat, mereka (anak latih) merupakan semangat saat rasa malas hadir menghampiri, mereka bukanlah anak yang sudah mahir pada kategori usia sebayanya, bukan juga sekolah yang memiliki standar olahraga baik pada lingkup Jogja, khusunya cabang basket.

Di awal bertemu dan memulai pengalaman ini tak ada kecanggungan dirasa, hanya sedikit kebingungan memulai latihan awal dan meyusun program latihan ke depannya. Saat itu, aku masih duduk di semester 4 ketika memulai pengalaman ini, bak gayung bersambut saat keinginan untuk mulai mencoba melatih, datang sebuah tawaran untuk memegang sebuah ekskul di salah satu sekolah swasta di Jogja, sebuah tawaran yang  kemudian menjadi warna tambahan di perjalanan mahasiswa rantau ini.

Pelatih mungkin agak sedikit berbeda dengan guru bagi teman-teman pembaca yang kemungkinan selama ini menganggap guru dan pelatih itu sama. Guru sebagaiamana yang selama ini kita tahu bertugas mentransferkan ilmu agar anak-anak menjadi mengerti dan bisa.

Betul, pelatih pun seperti itu. Mentransferkan ilmunya namun lebih dari itu pelatih bertanggung jawab akan anak didiknya, bertanggung jawab akan kemampuan dan potensinya untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya, bertanggung jawab untuk mendampinginya. 

Sadar selama ini belum menjadi pelatih yang baik, pelatih yang bertanggung jawab. Masih pelatih yang berorientasi pada upah, tentunya tetap dalam proses memantaskan diri menjadi pelatih yang sebenarnya. Mencoba menjadi pelatih yang berada pada level bukan soal upah namun passion sebagai seorang pelatih.

***
Bercerita sedikit tentang perjalanan melatih selama ini, ada beberapa hal yang ingin dibagi di sini. Salah satunya adalah hasil pertandingan pertama saya mendampingi anak-anak di suatu kompetisi. 

Sekitar setengah tahun perjalanan melatih akhirnya saya ditemani rekan sekelas saya untuk ikut di tempat saya melatih, Rizkan namanya. Tak lama setelah Rizkan ikut bergabung, sekitar satu bulan akhirnya mendapatkan undangan pertandingan pertama kami.

Pastinya kami cukup percaya diri dengan kemampuan anak-anak kami untuk ikut dalam kompetisi tersebut. Sampailah pada hari kami bertanding. Saat itu kami ternyata melawan sekolah yang cukup favorit dan unggulan dalam cabang basket di Jogja. Merupakan sebuah pengalaman yang benar-benar bernilai saat itu karena kami benar-benar dihancurkan dengan skor 2-71.

Scoring sheet pertandingan pertama kami, 9 November 2014

Saat itu tak ada kemarahan atau kekesalan pada anak-anak untuk kekalahan ini, karena kami mengerti bahwa akan sangat sulit menghadapi tim yang sudah lama terbentuk dan memiliki jam tanding lebih lama ketimbang kami. 

Namun, ada beberapa hal menarik yang saat itu membuat saya tetap semangat mendampingi mereka, tetap bergairah untuk berteriak memberikan instruksi. Mereka tak pernah menunduk dan tak pernah berhenti berlari saat mereka tahu telah ketinggalan banyak angka.

“Apa yang kalian takutin dari mereka ? Kalo kalian takut sama badan mereka harusnya kalian enggak usah ada di lapangan ini, jangan takut mereka juga manusia”.

Spontan lisan ini berucap keras di antara waktu time out yang kami minta. Rasanya cukup keras untuk anak-anak seusia mereka mendegarkan kata-kata seperti tadi. Tapi, tak apalah rasanya untuk pengalaman pertama meraka bertanding di sebuah kompetisi (sebagian besar di antara mereka benar-benar baru mengenal bola basket). 

Pertandingan pertama saya juga rekan dan kekalahan pertama kami, pastinya tak mungkin kami menyalahkan anak-anak. Menjadi sebuah cambuk keras bagi saya pribadi untuk lebih serius dan giat melatih, selain masih mencoba berlatih juga.

Ilmu di ruang kelas mu akan kamu bawa ke lapangan pada akhirnya. Ayo, jangan hanya di kelas. Keluarlah karena banyak hal baru dan seru lainnya di luar sana.

Baris penulis dari sisi lain :
Di luar sana pasti banyak contoh berhasil lainnya. Namun, sebelum kita melihat berhasil, rasanya tak salah kita melihat gagalnya. Kamu guru atau kamu pelatih bahkan kamu seorang pegawai atau apa pun itu. Jangan takut mencoba.

Gagal itu memang sakit, apa lagi kalah itu sakitnya tak ketulungan. Siapa, sih, yang tak mau menang. Pasti ada sisi baik yang tak terlihat di balik gagal dan kalah itu, percaya? Percaya saja karena percaya bukan hanya yakin, tapi juga menjalaninya. Nikmati prosesnya, maka proses itu akan menikmati kita.

"Seperti ada rasa bahagia yang tak tergambarkan saat melihat mereka bisa melakukan apa yang kita contohkan, dan latihan hari itu sangat menyenangkan. Aku bisa pulang dengan senyuman”.

Komentar

Postingan Populer