Tanda Koma
Raut wajah mu yang tak biasa, aku
takut melihatnya.
Jakarta
Bagaimana memulainya, dari mana harus memulainya. Aku dan kamu layaknya bumi dan langit, kita berada di tempat yang sama namun di jarak yang berbeda, Terkadang aku memandang indah mu ke atas dan berharap bisa menyamai tinggi mu agar aku bisa bersama mu.
Di pertemuan terakhir kita, aku coba beranikan diri untuk memandangi mu melihat paras mu dan berusaha merekam setiap sudutnya. Coba mengingat setiap raut wajah mu kala itu, melihat mu kembali adalah rindu yang menjadi kenyataan saat waktu tak bisa menyampaikan.
Namun dipertemuan itu kamu bukanlah kamu yang pertama kita bertemu, bahkan kita bukanlah kita yang dulu pertama bertemu. Ada hal yang membuat hari itu menjadi sangat berbeda, raut wajah mu adalah hal yang membuatku ingin lari dari hadapanmu kala itu, membuat diri ini gemetar tak karuan kala menyapa mu. Tak apa aku harus mengahadapi mu apapun itu nantinya, tutur hati ini menguatkan diri.
Kembali aku membawa penjelasan pada mu, penjelasan yang aku kira masih bisa di bicarakan lebih baik dari sekedar tulisan atau suara walaupun aku tau tak mudah bagimu untuk meluangkan hati dan pikiran mu secepat itu, sungguh tak pernah ada niat untuk memaksa dirimu.
Pertemuan dengan mu adalah hal yang tak bisa aku mengerti, memang bukan yang pertama. Aku kehilangan mu kemudian aku menemukan mu kembali dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Di perjalanan aku mendekati mu lagi, aku memastikan dirimu untuk bisa bertemu nantinya. Entah itu ego atau memang nafsu yang tak bisa aku kalahkan kala itu membuat ku berpaling dari mu sesaat tanpa kamu ketahui. Tak bermaksud untuk membenarkan kesalahan karna memang ini salah, aku hanya tak berani untuk mengakhiri yang telah aku mulai, aku ketakutan nantinya akan kehilangan kamu untuk kesekian kalinya, aku juga tak bisa jujur padanya karna alasan rasanya tak mungkin aku jujur dan menyakitinya. Waktu berjalan dan semua ini masih berjalan tanpa kamu ketahui, sebisa aku mencoba melepaskan dia dengan cara yang aku pikir lebih baik, aku tak tau yang baik itu yang seperti apa. Bisa memilih satu adalah suatu perasaan yang benar-beanr melegakan kala itu karna pada awalnya memang hanya ada satu pilihan.
Aku pikir semua akan menjadi lebih baik saat aku akhirnya bersama mu, tanpa di duga hal yang selama ini aku takutkan malah terjadi saat akhirnya kamu tau darinya. Tak ada kemarahan padanya saat aku tau, aku mengerti aku mau untuk mengerti jika memang akhirnya kamu tahu semuanya. Akhirnya membuat mu kembali pergi, kamu pergi dan aku tau itu. Aku marah, marah sekali pada diri ini, aku lebih kecewa pada diri ini ketimbang rasa kecewa mu pada diriku. Mengejar mu, hal yang terlintas dibenak ku untuk mempertahankan mu. Membawa penjelasan yang harus aku sampaikan langsung untuk setidaknya membebaskan hati dari sakit dan kecewa pada diri sendiri, agar setidaknya aku tau kemana harus melangkah.
Hatur nuhun pisan ( terima kasih banyak ) karna masih mau meluangkan hati, waktu serta pikiran untuk bertemu. Batasan itu aku paham, kesempatan itu aku juga coba ambil kembali diperjalanan kesekian aku menemukan mu . Semoga menjadi lebih baik dengan waktu yang semakin lama aku mengejar mu. Aku mau mengejar mu lebih lama lagi dengan sendiri ini, aku mau coba melanjutkan apa yang telah aku mulai dan menepati apa yang telah dijanjikan. Kemauan mu adalah hal yang berarti saat itu karnanya aku tau harus melangkah bagaimana.
Masing-masing dari kita tau apa yang harus dilakukan, aku berangkat karna aku tau itu yang harus dilakukan. Pasti kita paham karna kita tau apa yang hati ini mau.
Masih ada tanda koma yang harus di lanjutkan oleh deret kata lainnya.
Mengagumi mu dari jauh, Tulus :
Jakarta
Bagaimana memulainya, dari mana harus memulainya. Aku dan kamu layaknya bumi dan langit, kita berada di tempat yang sama namun di jarak yang berbeda, Terkadang aku memandang indah mu ke atas dan berharap bisa menyamai tinggi mu agar aku bisa bersama mu.
Di pertemuan terakhir kita, aku coba beranikan diri untuk memandangi mu melihat paras mu dan berusaha merekam setiap sudutnya. Coba mengingat setiap raut wajah mu kala itu, melihat mu kembali adalah rindu yang menjadi kenyataan saat waktu tak bisa menyampaikan.
Namun dipertemuan itu kamu bukanlah kamu yang pertama kita bertemu, bahkan kita bukanlah kita yang dulu pertama bertemu. Ada hal yang membuat hari itu menjadi sangat berbeda, raut wajah mu adalah hal yang membuatku ingin lari dari hadapanmu kala itu, membuat diri ini gemetar tak karuan kala menyapa mu. Tak apa aku harus mengahadapi mu apapun itu nantinya, tutur hati ini menguatkan diri.
Kembali aku membawa penjelasan pada mu, penjelasan yang aku kira masih bisa di bicarakan lebih baik dari sekedar tulisan atau suara walaupun aku tau tak mudah bagimu untuk meluangkan hati dan pikiran mu secepat itu, sungguh tak pernah ada niat untuk memaksa dirimu.
Pertemuan dengan mu adalah hal yang tak bisa aku mengerti, memang bukan yang pertama. Aku kehilangan mu kemudian aku menemukan mu kembali dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Di perjalanan aku mendekati mu lagi, aku memastikan dirimu untuk bisa bertemu nantinya. Entah itu ego atau memang nafsu yang tak bisa aku kalahkan kala itu membuat ku berpaling dari mu sesaat tanpa kamu ketahui. Tak bermaksud untuk membenarkan kesalahan karna memang ini salah, aku hanya tak berani untuk mengakhiri yang telah aku mulai, aku ketakutan nantinya akan kehilangan kamu untuk kesekian kalinya, aku juga tak bisa jujur padanya karna alasan rasanya tak mungkin aku jujur dan menyakitinya. Waktu berjalan dan semua ini masih berjalan tanpa kamu ketahui, sebisa aku mencoba melepaskan dia dengan cara yang aku pikir lebih baik, aku tak tau yang baik itu yang seperti apa. Bisa memilih satu adalah suatu perasaan yang benar-beanr melegakan kala itu karna pada awalnya memang hanya ada satu pilihan.
Aku pikir semua akan menjadi lebih baik saat aku akhirnya bersama mu, tanpa di duga hal yang selama ini aku takutkan malah terjadi saat akhirnya kamu tau darinya. Tak ada kemarahan padanya saat aku tau, aku mengerti aku mau untuk mengerti jika memang akhirnya kamu tahu semuanya. Akhirnya membuat mu kembali pergi, kamu pergi dan aku tau itu. Aku marah, marah sekali pada diri ini, aku lebih kecewa pada diri ini ketimbang rasa kecewa mu pada diriku. Mengejar mu, hal yang terlintas dibenak ku untuk mempertahankan mu. Membawa penjelasan yang harus aku sampaikan langsung untuk setidaknya membebaskan hati dari sakit dan kecewa pada diri sendiri, agar setidaknya aku tau kemana harus melangkah.
Hatur nuhun pisan ( terima kasih banyak ) karna masih mau meluangkan hati, waktu serta pikiran untuk bertemu. Batasan itu aku paham, kesempatan itu aku juga coba ambil kembali diperjalanan kesekian aku menemukan mu . Semoga menjadi lebih baik dengan waktu yang semakin lama aku mengejar mu. Aku mau mengejar mu lebih lama lagi dengan sendiri ini, aku mau coba melanjutkan apa yang telah aku mulai dan menepati apa yang telah dijanjikan. Kemauan mu adalah hal yang berarti saat itu karnanya aku tau harus melangkah bagaimana.
Masing-masing dari kita tau apa yang harus dilakukan, aku berangkat karna aku tau itu yang harus dilakukan. Pasti kita paham karna kita tau apa yang hati ini mau.
Masih ada tanda koma yang harus di lanjutkan oleh deret kata lainnya.
Mengagumi mu dari jauh, Tulus :
“Biarkanku
memelukmu tanpa memelukmu
mengagumimu dari
jauh
Aku menjagamu
tanpa menjagamu
menyayangimu
dari jauh”

Komentar