Bantu aku (dia) berjalan
Untuk mu yang selalu menjadi alasan ku untuk
bertahan.
..Memang
bagus juga untuk “hidup di masa sekarang”,
tapi bagian terbaik dari “sekarang” adalah masih ada hari esok. Dan dia
akan mulai menjadikan hari – hari itu menjadi lebih berarti..
“Angina Pectoralis ataupun sejenis namanya telah
menjadi sebuah momok yang membayangi kehidupannya selama ini, di diagnosis
sejak dia duduk di kelas 2 SMA sampai saat ini tak seorangpun yang
mengetahuinya selain dia dan Tuhan nya”
“Memang belum bisa dipastikan apa dia memang
mengidap kelainan penyakit itu atau tidak, tapi gejala yang selama ini timbul
telah menggambarkan seberapa dekat dia dengan penyakit itu”
Awalnya dia tak mengira bahwa
keturunan penyakit jantung dari keluarga ayahnya akan menurun juga padanya,
sebuah hentakan besar pada dirinya saat dia merasa masih banyak hal yang harus
dia kerjakan dan wujudkan. Karena dia
tak pernah merasa dia sakit selama ini, hanya ketika dia masih kecil dadanya
sering terasa enggap dan terasa sesak, namun dia tak pernah menganggap bahwa
itu sebuah gejala dari penyakit itu, dia kira
itu hanya sakit biasa dan lambat laun akan sembuh dengan sendirinya.
Namun manusia ataupun dokter
sekalipun bukanlah makhluk yang bisa memutuskan sesuatu, tapi Dia telah
memberikan jalanNya kepada dia untuk menghadapi itu.
Selama hidupnya dia merasa banyak
hal yang dia biarkan berlalu begitu saja, membiarkan waktu lewat begitu saja
tanpa memberikan pesan pada dirinya dan juga orang lain. Selama hidupnya
kebelakang ini dia merasa menyesal dengan apa yang pernah dia lakukan, masa
kecilnya dia lalui hanya dengan sedikit belajar tentang penciptaNya dan juga
ajarannya, belajar tentang cara bagaimana dia mengimani agamanya,Tuhannya,
kitabnya, dan Rasulnya. Terlalu singkat masa kecilnya dengan dilewati oleh hal
yang biasa – biasa saja, diapun menyesal untuk tidak banyak bersama
menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya, tidak banyak memori manis yang
dia buat bersama dengan orang –orang yang dia cintai.
Terlalu sering rasanya dia
mengecewakan orang – orang yang sangat mencintainya, merawatnya, memahaminya,
melindunginya, dan menjaganya. Selama dia ingat begitu banyak moment yang bisa
dia lewati bersama dengan mereka tapi diaa... hanya melewatkannya dan
melihatnya berlalu tanpa terjadi.
Dia menangis saat dia ingat tak
bisa melindungi orang – orang yang dia sayangi meskipun itu terjad di depan
matanya, membiarkan mereka tersakiti dan
menangis tanpa bisa berbuat apa – apa. Melihat ibunya jatuh tersungkur di
depannya pun dia hanya bisa menangis, atau saat ayahnya jatuh sakit apa yang
dia lakukan... dia malah acuh tak menganggapnya. Rasanya sugguh keterlaluan
untuk dia yang selama ini makan dari dari keringat mereka, meskipun mereka
pernah membuat dia kecewa dan sakit hati... rasanya itu buaknlah bentuk sayang
yang selama ini sering dia katakan, atau bukanlah sebuah bentuk penghormatan
sebagai seorang anak.
Sejauh yang dia ingat dia selalu
mearasa takut akan banyak hal, mengecewakan orang lain, menyakiti orang lain,
membebani orang lain. Tapi sebenarnya tanpa dia sadari dia telah melakukan itu
ke banyak orang termasuk mereka yang dia sayangi. Tak banyak waktu yang dia
habiskan untuk belajar atau sekedar membuka buku setelah pulang sekolah, juga
tak banyak waktu yang dia sisihkan untuk sekedar belajar tentang agamanya, dan
membaca kitab sucinya. Bahkan dia berani untuk melawan dan juga menyakiti
gurunya sendiri, bukankah sudah cukup keterlaluan rasanya apa yang telah dia
perbuat. Dia telah mengecewakan dirinya sendiri.
Semakin beranjak remaja nampaknya
dia tak banyak berubah dari sebelumnya, di awal dia menginjak masa remaja malah
semakin tak terarah hidupnya. Semakin lama semakin keterlaluan rasanya sikaf
yang dia lakukan, dia pikir jika dia mati rasa maka tak akan ada kesulitan yang
dia rasakan.
Dia kacau, semakin kacau karena
tidak hanya rasa sakit yang dia tutupi tapi semuanya yang baik dan yang buruk
sampai akhirnya dia pun terjebak pada lingkaran yang dia buat sendiri.
Tapi cahaya Nya datang, tangan
Nya datang di saat kegelapan dan rasa sakit yang semakin berdatangan, menyambut
uluran tangan dia memberikannya melalui perantara teman – teman hidupnya. Saat
Allah menegurnya dengan cara yang menyakitkan saat itulah dia berusaha untuk
berhenti menyia – yiakan hidupnya. Mulai meninggalkan hidup gelapnya, sedikit
demi sedikit kembali ke jalan yang terang untuk menemukan jalan keluar tanpa
harus selalu melewati jalan pintas.
Di perjalanan dia kembali merubah
kehidupannya memang tak semudah dan selancar yang dia pikirkan, bayangan masa
lalu dan bisikan dari masa lalu masih sering menghampirinya. Saat itu terjadi
perjalanan baru dia telah di temani oleh orang – orang hebat yang
mengantarkannya kepada jalan yang lebih baik sehingga jalan itu semakin terasa
nyaman dan siap untuk dilalui.
Memang bagus untuk mengingat masa
– masa lalu yang selama ini kita lewati, untuk bisa hidup di masa sekarang.
Tapi tenggelam di dalamnya bukanlah jalan baru yang bisa kita tempuh. Dia telah
membuktikannya dengan terjebak dilingkaran yang dia buat sendiri dan hanya berputar
– putar di dalamnya. Tapi diapun telah membuktikannya bahwa ada jalan keluar
untuk pergi dari lingkaran itu dan membuat jalan baru untuk hidup ke depannya.
Memang bagus juga untuk “hidup di
masa sekarang”, tapi bagian terbaik dari
“sekarang” adalah masih ada hari esok. Dan dia akan mulai menjadikan hari –
hari itu menjadi lebih berarti.
Di sisa hidup yang menjadi
rahasia pencintanya, dia ingin
mengembalikan apa yang seharusnya dikembalikan, membahagiakan apa dan siapa
yang harusnya di bahagiakan, menghormati dan menghargai siapapun lebih baik
lagi. Di sisa hidup yang di milki, dia ingin belajar lagi dan merasakan rasanya
belajar, berbuat sedikit hal kecil untuk perubahan besar dirinya dan orang orang disekitarnya.
Apa dia menyesal ? Tentu dia sangat
menyesal untuk pernah merasakan dan mengalami semua hal itu, tapi dia lebih
menyesal jika dia tak punya waktu lagi untuk merubah jalannya dan bertemu
dengan orang – orang baik lainnya.
Apa dia tidak takut akan
sakitnya, tentu dia pun takut untuk merasaknnya. Akan lebih menakutkan lagi
jika dia menyerah sekarang. Jadi... Dia tetaplah bantu dia berjalan.
...Karena
hidup adalah satu kesatuan harmoni dari rasa dan hati, saat rasa memerlukan
hati untuk mebuat karya, maka hati membutuhkan rasa untuk bisa mencintai dan
menalarkannya.. ( A.R. Nugraha )
...aku
menyesal karena membiarkan kalian pergi dan meninggalkan jalan kita selama ini,
tapi aku akan lebih menyesal jika tak bisa membawa kalian kembali lagi,..
bersama di jalan yang sama..”

Komentar