Perkenalkan "Dia"
...tidak banyak yang Beliau katakan pada anaknya kala anaknya pamit untuk meninggalkan rumah, Beliau hanya berpaling dan menyambut salam dari anaknya, sambil berbisik "hati-hati de, mamah minta maaf" ..
..suara kerasnya kembali terdengar, meminta dia untuk pergi. Sontak sesak terasa di dadanya mendegar beliau, tapi kini bulat sudah keputusannya untuk pergi...
22 September 2011
"bu.. Apa aku bisa selalu bersandar pada mu bu .
Sambil memeluknya si Ibu berkata "Tidak Nak!. Tapi Ibu akan mengajarmu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kamu tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat nanti Ibu harus pergi meninggalkanmu".
"..saat tembok itu mulai menghalangi, seketika itu pula aku kehilangan kaliankalian terlihat ada tapi tidak terasa ada, apa kalian bisa merasakan kedinginana yang kalian ciptakan sendiri. for everything i feel now, can you understand it.."
10 Juni 2014
" maaf mah, pah.. dua puluh tahun udah hidup ini berlalu..tapi belum juga aku membebaskan kalian dari panas dan teriknya matahari, dari dingin malam, dari derasnya hujan. Maaf karena kalian belum bisa menukmati masa istirahat kalian saat ini, aku mohon bertahanlah sedikit lagi sampai aku bisa membebaskan kalian dari semua itu, jadi aku mohon jangan tinggalkan aku dulu, tetaplah berjalan bersama ku, sedikit lagi".
"Di persembahkan untuk Dia yang berumur 20 tahun, untuk Orangtuanya yang sampai sekarang setia menunggu anaknya menggembalikan mereka".
..suara kerasnya kembali terdengar, meminta dia untuk pergi. Sontak sesak terasa di dadanya mendegar beliau, tapi kini bulat sudah keputusannya untuk pergi...
22 September 2011
"bu.. Apa aku bisa selalu bersandar pada mu bu .
Sambil memeluknya si Ibu berkata "Tidak Nak!. Tapi Ibu akan mengajarmu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kamu tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat nanti Ibu harus pergi meninggalkanmu".
Tepat 20 tahun yang lalu, ibu yang luar biasa dengan selamat mengantarkan buah hatinya untuk melihat dunia ini, mengantarkan titipan Allah untuk menjadi teman hidup mereka. Menjadi buah hati dan juga benih-benih surga dan kasih sayang Nya. Pelukan hangat sang ibu adalah pelukan terhangat pertama selama hidupnya, suara adzan sang ayah menjadi pengantar kelahiran dan syukur kepada Nya, suara merdu pertama yang mengantarkan sang anak tumbuh dengan keyakinan itu.
Lahir dengan normal tanpa kurang satu apapun di sebuah puskesmas kecil, namun seketika tempat itu menjadi ramai dan terasa indah saat suara tangis terdengar keluar. Tepat saat kamis malam anak itu lahir dan melihat ayah ibunya. Aditia Nugraha adalah nama awal yang mereka berikan untuk sang anak, tapi dokter yang membantu kelahiran sang ibu berbaik hati memebrikan nama tambahan Rijki sebagai nama tengah sang anak, seperti itulah saat ayah menceritakan tentang bagaimana anaknya lahir.
Tumbuh dan hidup di lingkungan yang sederhana, anak itu tak banyak mendapatkan perlakuan istimewa dari ayah dan ibunya. Sampai saat dia pulang dan menangis karena tidak mempunyai mainan seperti teman- temannya yang lain, atau saat di rumahnya belum ada TV dan juga VCD seperti rumah yang lainya, ibunya tetap sabar mendengar anaknya menangis dan menenagkan tangisnya. Ibu tetap ibu yang terbaik, mengajarkan anaknya untuk bisa mengenal penciptanya dan juga mengerti cara mengimaniNya.
"..aku ingat saat itu ibu sedang mengaji, alunan surahnya mengatarkan ku tertidur di atas pangkuannya, beliau tetap melanjutkan mengaji sampai aku tertidur. Sungguh nyaman rasanya saat itu, pangkuannya sungguh berarti..".Ibu tetap ibu yang terbaik, saat dia menerima harus berpisah dari orang yang dia sayangi dan juga anak-anknya.
"..malam itu terdengar suara ribut ibu dan ayah, entah apa yang terjaadi sampai pertengkaran itu terjadi. Tapi ibu..... Tiba- tiba beliau pergi membawa tas baju, sentak aku mengejarnya mencoba meraih tangannya, aku tak mau kehilangan ibu jangan per. Tapi tangan ayah terlalu kuat saat itu memisahkan tangan ku dan tangan ibu yang akhirnya terlepas dan melihat beliau pergi..". Ibu tetap ibu ku yang terbaik. Saat dia bersedia berbaikan dan kembali menlanjutkan keluarga ini bersama-sama.
Ayahnya tetap ayah yang hebat, selalu khawatir dan mencemaskan anaknya selalu kuat saat berhadapan dengan anaknya. Beliau orang pertama yang akan datang menolong anaknya saat anaknya terancam dan dalam bahaya, seperti saat anaknya tenggelam di sebuah kolam ikan, atau saat anaknya dengan tidak sengaja meminum minyak tanah atau saat kaki sang anak tertusuk oleh kaca Beliau yang pertama kali datang dan menyelamtkannya, mengusap kepala anaknya agar memberhentikan tangisnya, beliau juga yang selalu mencoba dekat dengan anaknya dengan cara unik yang dia bisa dan miliki.
"..ini cara masukin umpannya gini.. biar nanti ikannya mau makan umpannya. Begitu ucapnya saat mengajarkan anaknya memancing.." Ayah tetaplah ayah yang terhebat, beliau selalu bisa membuat anknya mau untuk ikut berpetualang dan membawa hasil tangkapannya, Beliau selalu tersenyum saat anaknya pulang dan kegirangan membawa tangkapan hari itu.
Masa kecil anak ini terlihat sempurna sama seperti yang lainnya, bahkan mungkin lebih beruntung ketimbang teman-temannya di panti asuhan.
Dua puluh tahun berlalu, meberikan anak ini begitu banyak cerita tentang hidup, meski saat ini cerita itu tidak seperi cerita yang dulu tapi Ibu tetaplah ibu terbaik dan Ayah tetaplah ayah terhebat. Cerita itu memang akan berubah cepat atau lambat, saat itulah peran kita akan berpindah dan bertukar dengan mereka.
Tapi ternyata kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan, saat kita masih terus bersama dalam satu jalur yang sama , di tengah jalan ternyata kalian berpindah jalur dan meninggalkan ku berjalan di jalan yang selama ini kita yakini.
10 Juni 2014
" maaf mah, pah.. dua puluh tahun udah hidup ini berlalu..tapi belum juga aku membebaskan kalian dari panas dan teriknya matahari, dari dingin malam, dari derasnya hujan. Maaf karena kalian belum bisa menukmati masa istirahat kalian saat ini, aku mohon bertahanlah sedikit lagi sampai aku bisa membebaskan kalian dari semua itu, jadi aku mohon jangan tinggalkan aku dulu, tetaplah berjalan bersama ku, sedikit lagi".
"Di persembahkan untuk Dia yang berumur 20 tahun, untuk Orangtuanya yang sampai sekarang setia menunggu anaknya menggembalikan mereka".

Komentar