Cinta itu 324 Km



Cinta itu 324 Km

“Awalnya posting ini akan ku terbitkan saat tanggal 16 nanti, sebagai kado ku untukmu. Selama ini menemani dari jarak 324 km..” Tapi tampaknya, keadaan membuat ku harus memperlihatkan padamu lebih awal... Maaf ini ku pakai sebagai bentuk permohonan maaf juga.

Tak pernah terkira bahwa aku akan melangkahkan kaki lebih jauh bahkan hingga ke upuk timur pulau jawa ini, seperti ada sesuatu yang mengharuskan pergi ke sana, ke kota itu, ke kotamu.

Ada saja cara tuhan menunjukkn cinta bagi setiap manusia dan rasanya setiap orang memiliki atau pernah mendapatkan pengalaman yang berbeda.

Rasanya itu pun berlaku pada kita... tanpa terkecuali

Masih sangat terpukul dengan pengalaman terakhir bersamanya, membuat ku menjadi agak sedikit  sulit untuk berpindah darinya. Ada banyak orang lain setelah dia yang kemudian hadir bergantian datang di hidup. Sekadar drekat atau akhirnya mencoba hubungan yang lebih dekat, namun ternyata aku masih belum saja siap untuk pergi.

Semakin jauh semakin lama, semakin banyak rasanya perasaan orang lain yang tanpa disdari telah aku bohongi. Rasanya cukup keterlaluan bertingkah seperti itu, aku membiarkan mereka masuk tanpa diberikan kejelasan selanjutnya apa. Entah bagaimana perasaan mereka, aku minta maaf tidak bisa menjadi baik untuk mereka. 

Di awali dengan permohonan maaf ku pada mereka semoga ini menjadi keterbukaan lagi seperti yang kamu harapkan selama ini di dalam perjalanan kita.

Masih ingatkah bagaimana kita bertemu?  Pasti tak menyangka perkenalan singkat kemudian berlanjut sampai sejauh ini. Pertemuan itu tidaklah melalui tatap mata dan juga jabat tangan.

Hari itu memberikan sebuah ruang kenyamanan di hatik entah sudah berapa lama tak pernah lagi kurasakan, aku tak tahu alasannya. Tapi, wanita yang baru saja aku kenal, memiliki pribadi yang menyenangkan.

**
Selang satu dua hari kita sempat tak melakukan komunikasi lagi untuk menyambung perkenalan yang kemarin.  Jujur sebelum dirimu hadir, telah ada yang lebih dulu singgah. Tapi, dari semuanya itu aku mengerti tak bisa lebih jauh, aku tetap pada kondisi memilih dan ragu.

**
Perkenalan itu akhirnya berlanjut menjadi sebuah percakapan sehari–hari, menjadi sebuah rutinitas baru di anara kita. Aku tidak terlalu pandai dalam mengingat tanggal kapan kita bertemu, atau kapan saat kejadian penting lainnya terjadi, aku minta maaf untuk tidak bisa mengingat semua dengan baik.

Rasanya sudah hampir cukup lama kita saling mengenal, meskipun tak satupun dari percakapan itu dilakukan dengan saling bertatap muka, atau saling melihat mimik wajah nasing-masing.

Tapi, kenyamanan itu tidak selalu harus saat kita saling bersama atau bertemu bukan? Apa kamu pun berpikiran sama?

Aku selalu mencoba membuka hati dan selalu berakhir buntu saat banyak ketakutan dari sebuah hubungan yang berakhir jadi sebuah kesakitan, tentu saja aku tak mau lagi berada di tahap itu. 

Namun kali ini berbeda, dia datang memberi kehangatan dan juga rasa nyaman yang sudah aku rasakan bahkan dari sebelum hubungan ini berlangsung.

“percaya dengan yang engkau rasakan...”

**
Rasanya keyakinan itu sudah cukup bulat untuk bisa membawa ku pergi ke kota mu, melewati 324 km untuk meihat wajahmu langsung. Keyakinan yang sudah aku persiapkan selama beberapa bulan ini untuk memilih dan akhirnya memutusakan menjemputmu langsung di sana.

Sampai di kotamu dan akhirnya tiba saat kita bertemu, meski ada banyak cerita lucu dan rumit yang mewarnai sebelum kita bertemu, itu menjadi cerita manis saat kita telah seperti ini.

Melihat mu untuk yang pertama kalinya, jujur membuat ku agak gugup tak berani melihat langsung wajah mu. Saat itu kita seperti 2 orang yang sudah sangat lama kenal dan tidak seperti dua orang yang baru pertama kali bertemu. Aku merasakan kenyamanan itu secara langsung.
Tidak banyak waktu ku untuk bisa tinggal di kota mu saat itu, hanya enam puluh tujuh jam waktu yang bisa ku berikan untuk kelanjutan hubungan kita. Semoga enam puluh tujuh jam itu menjadi sebuah bukti bahwa aku memang memilih mu, aku telah menentukan pilihan. Aku ingat, maaf karena telah menjadi seperti bocah kecil yang kekanak – kanakan saat situasi disana membingungkan kita berdua, maaf karena aku yang selalu lari dari masalah. Semoga apa yang menjadi keputusan mu saat itu bukan karena sebuah keterpaksaan saat kamu masih merasa ragu.
**
Terima kasih untuk memperkenalkan ku pada kebahagiaan anak – anak yang bermain air di air mancur balai kota, terima kasih untuk membuatku melihat kehangatan keluarga, juga sebuah perjalanan rekreasi yang melelahkan. Dan juga, terima kasih telah memperlihatkan keindahaan jembatan Suramadu di langit malam.
Terimakasih karena telah mau bertemu dengan ku saat itu, terimakasih karena mau memberiku kesempatan itu saat kamu berada di situasi yang membingungkan. Maaf untuk banyak hal yang membuat mu menjadi bingung dan ragu, serta kecewa. Aku telah berusaha jujur untuk mu,untuk hubungan ini.
Bukan hanya cerita lucu, tapi ada beberapa hal yang sudah kita lalui, termasuk cerita tentang kamu dan tentang aku, masing- masing sudah kita ketahui dan dari semua itu kita mencoba belajar untuk lebih saling mengenal dan menerima bukan ? . Aku pun tak pernah mengira kedekatan hubungan kita akan menjadi sejauh ini, kenyamanan aku saat bersama mu. Kita sudah mulai melangkah, tapi memang belum tau akan melangkahkan ini kemana, jujur masih ada keraguan dibenaku karena jarak ini, begitupun kamu. Tapi ini telah sama – sama kita lewati selama ini sejauh ini.

“mungkin jarak menjadi cara Dia untuk menjadikan kita lebih dekat dan belajar tentang percaya satu sama lain, mungkin juga cara ini Dia berikan agar kita menjadi lebih baik saat kita tidak bertemu dan bertemu pada saat kita telah sama – sama belajar menjadi lebih baik dari pertemuan kita yang sebelumnya..”

 Untuk Kapten.Pelor indonesia dari Komandan pelor regional Jogja :)

Komentar

Postingan Populer