Ramadhan sampai Lebaran ( Dua )

Perjalanan itu memang tak selalu mudah, itu kenapa hadih besar menanti setiap pesertanya di garis finish ( ini analogi saya seputar shaum rhomadhon ) kemarin.

Tak terasa bulan itu kembali lagi menghampiri ku, tak kusangka juga umurku bisa menjumpai bulan ini lagi. Rhomadhon berkah ini hadir kembali mengisi kehidupan umatNya, kehidupan ku.

Kenangan menyakitkan enam tahun lalu di bulan ini, aku masih yakin bukan karena bulannya itu terjadi.. tetapi memang KuasaNya yang menjadikan itu terjadi. Rasanya tidak salahkan aku merasa hancur saat aku menantikan bulan ini untuk berkumpul.. bersama menjalankan tiga puluh hari shaum. Tidak menjadikan ku terus terpuruk Dia memberikan banyak kekuatan melalui tangan – tanganNya, kasih sayang Nya melebihi besarnya dan dalamnya keterpurukkan ku, kesedihan ku.

Tidak disangka semuanya akan berlanjut hingga selama ini, akhirnya aku bertemu lagi dengan bulan ini, menjalninya sendiri (lagi). Masih menunggu sampai nanti kita bisa menjalnkannya bersama bukan hanya melihatnya bersama. Apa aku marah ? rasanya aku sudah bosan marah, kemarahan enam tahun lalu kini menjadi rasa rindu yang tidak akan pernah habisnya untuk kalian.

Kolak itu, iyah kolak itu yang aku juga rindukan dari hadirnya bulan ini.. kolak yang engkau buat sendiri untuk keluarga mu santap saat berbuka.. senyum dan salam itu yang aku rindukan saat engkau sempatkan pulang untuk bisa berbuka bersama dengan keluarga mu.
“De bangun.. bangunn shaur, mau shaur gak ? sok bangun heula”  suara itu yang membangunkan ku untuk shaur, lama rasanya tak terdengar lagi. Tangan terampil mu mengajarkan ku meracik makanan berbuka, sekedar bercengkrama menunggu waktunya berbuka, saat – saat itu yang masih aku ingat dan rindukan sampai saat ini.. selalu.

Kemudian hari puncak yang seluruh hambaNya tunggu pun tiba, hari kemenangan itu akhirnya tiba. Apa aku bahagia ? aku tetap berbahagia pastinya, dengan kebahagiaan yang terasa tak lengkap tanpa hadirnya kalian merayakannya bersama ku, memang bukan soal perayaannya saja semata – mata kita berbahagia atau karena hadirnya kalian aku bahagia.. tapi memaknainya yang lebih utama.

Aku sakit harus melihat kalian sendiri di rumah saat yang lain berhamburan keluar merayakan kemengan fitri, saling berjabat tangan melangkahkan kaki dan memafkan, meski aku tau tak selalu harus saat hari itu kita memafkan.. tapi bukan hanya soal memafkannya. Tapi kebersamaannya.. lebih sakit saat orang tua kalian berharap di kunjungi oleh kalian tapi kalian terpaksa tidak bisa ikut berkumpul karena.. perbedaan. Aku yakin bukan karena perbedaan itu kalian tidak ikut berangkat bersama ku, tapi karena perasaan tidak di akui itu yang membuat kalian enggan.

Karena ini semua sudah terjadi, tak apalah rasanya ini terjadi dulu. Dia yang Mengatur mungkin sudah memiliki rencanaNya sendiri untuk kalian, untuk kita.. Aku masih terus menunggu di edisi ramadhan berikutnya saat itu aku juga menunggu kalian bersama merayakannya bersama.. seperti dulu.

Selamat Idul Fitri Untuk para pembaca blog ini. Selamat berkumpul, selamat bersilaturahmi, semoga ada hikmah yang kita semua daptkan dari semua yang sudah kita jalani .. Amiin

Taqoballahu Mina Wa Minkum, Taqoballahu ya karim
"Oh iyah selamat hari raya Idul Fitri juga tentunya untuk saudara - saudara di Palestina sana, mudah - mudahan Allah menggabulkan Do'a kita semua untuk kalian Amiin". 
Al-fatihah...



Komentar

Postingan Populer