Ini Tanpa Judul
“Bahwa hidup harus
menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang
benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.”
“Tak peduli lewat apa
penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian
yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan
angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.“
–Tere Liye,
"Kali ini aku benar – benar ingin
menyerah ya muqolibal qulub.."
Saat aku coba untuk tegar berdiri, ternyata aku semakin lemah tak berdaya.
Entah rasa sesak apa yang ada di dalam diriku ini. Kedinginan itu telah membawa
luka baru setiap saatnya, sebodoh apakah aku sehingga membiarkan kesalahan itu
terus saja berlalu dan berlalu setiap saatnya, terulang lagi hampir setiap
saat.
Kekosongan ini membuatku buta akan arah, membutakan mata ku melihat jalan,
yang paling menyakitkan itupun membutakan mata terdalam ku, mata hati,
membutakan hati sehingga membuat sebuah kesalahan menjadi sebuah kebiasaan.
Seharusnya di bulan ini aku menjadi bahagia seperti banyaknya orang – orang
berbahagia, meskipun tak perlu harus di bulan ini kita berbahagia, karena ada
begitu banyak alasan untuk berbahagia kapanpun itu. Tapi nampaknya aku menelan
ludah ku sendiri, aku bisa bahagia memperlihatkan bahagia, tapi akau tak bisa
memperlihatkan hatiku bahagia, tenang. Ada begitu banyak kehawatiran yang
akupun tak mengerti akhirnya dimana, tapi aku tau dimana itu dimulai.
Aku belum tau bagaimana cara mengakhirinya, jujur sampai saat ini. Tapi aku
tetap terus memulai dan mencoba mencari, berniat.
Sampai saat tulisan ini hadir, aku masih merasa tak karuan, kacau,
kebingunggan. Aku tau ini buka tempat yang seharusnya aku tuju untuk mengadu,
mengeleuh. Aku hanya merasa sedikit bisa bernafas saat menulis, sedikit bisa
melupakan... jadi aku coba menulis
“... adit minta maaf ci,
semuanya bukan karna salah kamu atau kamu ngelakuin salah. Tapi ternyata adit
masih kacau, semua masalahnya sekarang terasa jadi satu. Maaf kamu jadi kena
imbasnya gara- raga kacaunya adit, maaf biar adit kaya gini dulu. Hati – hati
jaga diri, kamu juga bukan keledai bodoh ko :) . Kamu yah kamu yang baik
apa adanya, mengerti seperti biasanya. Please don’t be angry, its not mine
ignore you, but.. its just be complicated , so let me trying forgive my self.
Sampai saat itu, tetaplah jadi kapten
yang baik :) ... “
Memaafkan diri sendiri , kemudian membebaskan perasaan kita dulu dari masalah
itu, memperbaikinya sejalan dengan mengaturnya kembali menjadi lebih rapih dan
terasa nyaman di sini, di hati.
Seperti layaknya layang – layang, saat kita membiarkannya terbang tanpa di
atur maka dia akan terbang jauh , tinggi tanpa arah, mungkin dia bisa pergi jauh, tinggi.. tapi
sebenarnya dia semakin kebingunggan, karenanya ada tali yang mengaturnya
terbang, mengulurnya terabang jauh, menariknya saat dia salah arah, mengatur
jalurnya agar terbang dengan suatu tujuan.

Komentar